Sabtu, 09 Agustus 2008

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

Disusun oleh Muslim Atsari

Rukun Islam yang pertama dan paling utama adalah syahadat Laa ilaaha illa Alloh dan syahadat Muhammad Rosululloh. Dua syahadat ini saling berkaitan, tidak terpisahkan. Telah kami sampaikan penjelasan tentang syahadat Laa ilaaha illa Alloh, maka di sini kami akan menyampaikan penjelasan tentang syahadat Muhammad Rosululloh.

Syahadat Muhammad Rosululloh.artinya adalah mengikrarkan dengan lesan disertai keyakinan dengan hati bahwa Nabi Muhammad bin Abdulloh keturunan Hasyim dari suku Quraisy adalah utusan Alloh kepada seluruh mansuia dan jin.

Hal ini sebagaimana firman Alloh:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ {28}

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’ (34):28)

Juga firman Alloh Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

KANDUNGAN SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

Kemudian kita wajib mengetahui, bahwa syahadat Muhammad adalah utusan Alloh memiliki tuntutan-tuntutan sebagai berikut:

1- Membenarkan berita beliau.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-A’rof (7): 158)

2- Mentaati perintah beliau.

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seijin Allah. (QS. 4:64)

3- Menjauhi larangan beliau.

وَمَآ ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {7}

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah itu. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr (59):7)

Imam Ibnul Qoyyim –semoga Alloh merahmati beliau- berkata: “Adapun adab terhadap Rosul n , maka Al-Qur’an dipenuhi dengan adab tersebut. Pokok adab terhadap beliau adalah: “Totalitas kepasrahan terhadap beliau, tunduk terhadap perintah beliau, menerima berita dari beliau dengan penuh penerimaan dan keyakinan.

Dengan tanpa menentangnya dengan khayal kebatilan yang dia namakan dengan akal, atau menganggap berita Rosul mengandung syubhat (kerancuan) dan keraguan, atau lebih mengutamakan pendapat-pendapat manusia dan hasil-hasil fikiran-fikiran mereka daripada berita Rosul.

Maka (seorang mukmin) mentauhidkan (mengesakan; menunggalkan) Rosul dengan tahkiim (menjadikan beliau sebagai hakim) dan tasliim (kepasrahan terhadap keputusan Rosul), ketaatan dan kepatuhan. Sebagaimana dia (seorang mukmin) mentauhidkan (mengesakan) Al-Mursil (Alloh Yang telah mengutus Rosul) Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah, ketundukan, merendahkan diri, selalu kembali, dan tawakkal”. (Kitab Madarijus Salikin juz: 2; hlm: 387. Dinukil dari kitab Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin juz 2, hal: 7, penerbit: Daar Ibnil Jauzi, cet: 1, th: 1415 H / 1994 H)

4- Beribadah kepada Alloh hanya dengan syari’at beliau.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imron (3):85)

Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merahmatinya- berkata menjelaskan ayat 19, dari surat Ali ‘Imron: “Firman Alloh ini sebagai pemberitahuan dariNya bahwa tidak ada agama di sisiNya yang akan Dia terima kecuali Al-Islam, yaitu: mengikuti para Rosul di dalam apa yang mereka diutus oleh Alloh dengannya, di setiap waktu, sehingga Alloh menutup (para Rosul) dengan (Nabi) Muhammad. Alloh telah menutup seluruh jalan-jalan menuju kepadaNya kecuali dari arah Nabi Muhammad. Maka setelah diutusnya Nabi Muhammad, barangsiapa menghadap Alloh (yaitu: mati) dengan agama selain syari’at beliau, tidaklah akan diterima”. Kemudian Imam Ibnu Katsir membawakan firman Alloh Ta’ala ayat 85, dari surat Ali ‘Imron. (Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, surat Ali ‘Imron, ayat: 19)

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

PERINGATAN:

Setelah kita mengetahui konsekwensi dan kandungan syahadat Muhammad sebagai utusan Alloh, kita akan mengetahui kenyataan bahwa banyak di antara umat ini yang menyimpang dari kandungan syahadatain.

· Umat Islam seharusnya meyakini seluruh berita Rosulullah, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan tidak masuk akal! Seperti berita Rosululloh tentang akan datangnya Dajjal, akan turunnya Nabi Isa dari langit, dan lain-lain.

· Umat Islam seharusnya mentaati seluruh perintah Rosulullah, sesuai dengan kemampuannya, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan tidak sesuai dengan zaman! Seperti perintah Rosululloh untuk menutupi aurot bagi wanita, sholat berjama’ah bagi laki-laki, dan lainnya.

· Umat Islam seharusnya menjauhi seluruh larangan Rosulullah, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan menghalangi kemajuan dan ketinggalan zaman! Seperti larangan Alloh dan RosulNya terhadap riba, larangan kholwat (seorang laki-laki menyepi dengan seorang wanita yang bukan mahromnya), dan lainnya.

· Umat Islam seharusnya beribadah kepada Alloh hanya dengan syari’at Rosulullah, namun sebagian orang beribadah kepada Alloh dengan tanpa dalil (petunjuk), beribadah dengan kebodohan, hawa-nafsu, dan perkara baru dalam agama! Seperti beribadah dengan dzikir-dzikir dan sholawat-sholawat yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad. Bahkan banyak di antara umat ini yang membuat jalan-jalan sendiri untuk mendekatkan diri kepada Alloh, yang terkenal dengan istilah thoriqoh-thoriqoh.

Ini semua menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang belum memahami syahadat Muhammad Rosululloh dengan sebenar-benarnya. Semoga Alloh selalu membimbing kita semua di atas jalan yang Dia ridhoi dan cintai. Aamiin.

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

Disusun oleh: Muslim Atsari

Sesungguhnya kemuliaan hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun juga. Semakin seorang hamba menambah ketundukan dan peribadahan kepada Penciptanya, maka semakin bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya.

Ibadah adalah hak Alloh yang menjadi kewajiban hamba, dan kebaikannya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Karena sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan hambaNya.

Hamba tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Alloh dengan benar hanya dengan akal dan perasaannya. Maka Alloh mengutus Rosul-RosulNya dan menurunkan kitab-kitanNya untuk memberikan petunjukNya.

Alloh berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124}

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha (20):123)

Ibadah yang benar kepada Alloh dibangun di atas dasar-dasar atau kaedah-kaedah yang kokoh. Inilah ringkasan kaedah-kaedah tersebut:

1- Ibadah adalah tauqiifiyah.

Maknanya tidak melakukan ibadah kecuali dengan yang diperintahkan atau dituntunkan, berdasarkan wahyu Alloh Ta’ala. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah.

Alloh berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيٌر {112}

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa beribadah harus mengikuti perintah Alloh dan tidak boleh melewati batas.

2- Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bersih dari noda-noda syirik.

Yaitu ibadah itu dilakukan semata-mata mencari ridho Alloh Ta’ala, mengharap rohmatNya dan takut terhadap siksaNya.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. (HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah Ash-Shohihah, no: 52; Ahkamul Janaiz, hal: 63)

Jika ibadah itu dicampuri syirik, maka syirik itu menggugurkan ibadah tersebut, berapapun banyaknya ibadah itu!

Alloh berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ {65}

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar (39):65)

3- Ibadah harus meneladani Nabi Muhammad n (mutaba’ah).

Alloh berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا {21}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Allah dan (pahala) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. (QS. Al-Ahzab (33):21)

Maka siapapun yang beribadah dengan tidak mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, maka ibadah itu tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka urusan itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

4- Ibadah yang telah ditetapkan: sebab, jenis, kadar, cara, waktu, dan tempatnya, wajib dilakukan sebagaimana yang dituntunkan. Tidak boleh melanggar ketentuan-ketentuan tersebut.

Contoh: Alloh telah menentukan waktu-waktu ibadah sholat, maka tidak boleh melakukan di luar ketentuan. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا {103}

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). (QS. An-nisa’ (4):103)

5- Ibadah harus dilakukan dengan dasar kecintaan, berharap rohmat Alloh, takut siksaNya dan disertai ketundukan dan pengangungan kepada Alloh.

Ketika Alloh memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَ رَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ {90}

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’ (21): 90)

6- Kewajiban ibadah tidak gugur dari hamba, semenjak baligh sampai meninggal dunia.

Alloh Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {102}

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-‘Imron (3):102)

Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Alloh, yaitu Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, berkewajiban beribadah sampai wafat, maka orang-orang yang derajatnya di bawah beliau lebih wajib untuk beribadah kepada Alloh sampai matinya.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ {99}

Dan beribadahlah kepada Robbmu (Penguasamu) sampai al-yaqiin (kematian) datang kepadamu (QS. Al-Hijr (15):99)

Para ulama ahli tafsir bersepakat bahwa makna al-yaqiin di dalam ayat ini maknanya adalah kematian. Hal ini seperti firman Alloh pada ayat lain, yang memberitakan pertanyaan penduduk sorga kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ{42} قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ {43} وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ {44} وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَآئِضِينَ {45} وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ {46} حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ {47}

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al-yaqiin (kematian)". (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-47)

Setelah kita mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa anggapan “kewajiban beribadah kepada Alloh dengan syari’at Nabi Muhammad” gugur pada orang yang telah mencapai hakekat atau ma’rifat, merupakan anggapan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits dan kesepakatan umat Islam semenjak dahulu.

Inilah 6 kaedah penting berkaitan masalah ibadah, semoga bermanfaat.

Sabtu, 02 Agustus 2008

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Disusun oleh: Muslim Atsari

Alloh Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan kita hanyalah agar kita beribadah kepadaNya. Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

Demikian juga bahwa seluruh utusan Alloh, memulai seruan mereka agar manusia beribadah hanya kepadaNya. Dan perintah pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an adalah perintah beribadah hanya kepada Alloh semata. Yaitu firman Alloh Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {21}

Hai manusia, beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqoroh (2): 21)

Oleh karena itu, kita wajib memperhatikan ibadah ini, baik secara ilmu maupun amal. Maka apakah ibadah itu?

MAKNA IBADAH

Makna ibadah secara bahasa adalah: ketundukan dan kerendahan/kepatuhan, seperti perkataan bahasa Arab: “thoriiq mu’abbad” artinya: jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’iir mu’abbad” artinya onta yang patuh.

Adapun makna ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H) berkata: “Ibadah adalah: satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi)

Imam Ibnu Katsir t (wafat 774 H) berkata: “Di dalam (istilah) syari’at (ibadah) adalah: suatu ungkapan dari apa yang menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan, ketundukan, dan rasa takut”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah, ayat: 5)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t berkata: “Ibadah digunakan pada dua perkara (dua makna):

Pertama: ta’abbud (perbuatan ibadah), maka ini maknanya adalah: merendahkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dengan kecintaan dan pengagungan.

Kedua: muta’abbadu bihi (sebagai obyek; yang digunakan untuk beribadah), maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t , yaitu: Istilah yang meliputi seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Kitab Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid, juz:1, hal:10)

CARA MELAKSANAKAN IBADAH

Dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t di atas kita mengetahui bahwa cara beribadah kepada Alloh adalah dengan menjalankan perintah-perintahNya, baik perintah wajib atau mustahab (sunnah) dan menjauhi larangan-laranganNya, baik larangan harom atau makruh. Hal itu dilakukan dengan penuh kecintaan dan pengagungan, berharap rohmat Alloh dan takut terhadap siksaNya.

Oleh karena itu untuk beribadah membutuhkan ilmu agama, berdasarkan dalil-dalil Al-Kitab danAs-Sunnah. Karena kita tidak akan mengetahui perintah Alloh untuk dikerjakan kecuali dengan dalil. Dan kita juga tidak akan mengetahui laranganNya untuk ditinggalkan kecuali dengan dalil. Maka beribadah kepada Alloh hanyalah dengan mengikuti Nabi Muhammad n , mentaati Alloh dan RosulNya. Mentaati terhadap perintah dengan cara melaksanakannya, mentaati larangan, dengan cara meninggalkannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imron (3): 31)

Dan telah diketahui bahwa selain mengikuti tuntunan Nabi Muhammad n , ibadah akan diterima oleh Alloh jika dilakukan dengan ikhlas, dan didasari dengan iman. Tiga hal inilah syarat diterimanya ibadah.

CAKUPAN IBADAH

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ibadah kepada Alloh meliputi seluruh sisi kehidupan manusia, yang lahir maupun yang batin. Inilah di antara dalil-dalil yang menunjukkan cakupan ibadah itu mengenai seluruh sisi kehidupan manusia:

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {162} لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذّلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ {163}

Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)". (QS. Al-An’am (6): 163)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia.

Juga firman Alloh Ta’ala:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Sebab turun ayat ini adalah perselisihan dua sahabat tentang pengairan kebun, kemudian Rosululloh memberikan keputusan di antara mereka. Namun salah seorang dari mereka tidak menerima keputusan Rosulullah, maka turunlah ayat ini. Ayat ini menunjukkan kewajiban menerima keputusan Rosulullah dalam segala perkara, baik masalah pengairan, sebagaimana sebab turunnya ayat ini, maupun lainnya.

KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA IBADAH

Ada dua kelompok manusia yang salah di dalam memahami makna ibadah. Mereka adalah:

1- Kelompok orang yang mempersempit makna ibadah.

Mereka membatasi ibadah hanyalah perbuatan ritual yang berhubungan dengan Alloh saja. Atau menganggap bahwa ibadah itu hanya dilakukan di masjid saja. Sehingga ketika kepada kelompok orang ini disampaikan perintah atau larangan yang berkaitan dengan makan-minum, berpakaian, pergaulan, kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik, pernikahan, atau lainnya yang diatur oleh agama Islam, mereka menolak dengan alasan agama tidak boleh mengatur hal-hal tersebut! Alangkah sombongnya mereka terhadap Alloh, Pencipta mereka, yang telah membuat syari’at untuk mereka!!

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ {32}

Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali-‘Imron (3): 32)

Ayat ini menunjukkan wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum, dalam perkara apa saja.

2- Kelompok orang yang melewati batas dalam agama.

Mereka menganggap sesuatu yang bukan ibadah sebagai ibadah. Membuat perkara-perkara baru di dalam agama, dengan akalnya atau perasaannya. Melakukan ibadah tanpa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya sekedar kebiasaan atau adat yang tidak dituntunkan oleh Alloh dan RosulNya. Padahal ibadah itu harus berdasarkan dalil dan petunjuk dari Alloh dan RosulNya. Jika tidak, maka tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

Dengan penjelasan ini, kita memahami keagungan agama Islam, agama yang haq, yang mengajarkan segala perkara yang dibutuhkan bagi umat manusia. Maka seharusnya manusia menerima agama mulia ini. Hanya Alloh Pemberi taufiq. Al-hamdulillah robbil ‘alamin.

Jumat, 01 Agustus 2008

Awas Nabi Baru

AWAS NABI PALSU!

Sesungguhnya termasuk keimanan di dalam agama Islam, adalah kita wajib meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah penutup seluruh para Nabi dan Rosul, tidak ada Nabi lagi setelah beliau. Hal ini merupakan aqidah dan keyakinan pokok dan penting yang dijelaskan oleh Alloh di dalam kitabNya dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad di dalam banyak hadits-hadits beliau.

Alloh berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab (33):40)

Di antara hadits-hadits yang menjelaskan hal ini antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang lelaki yang membangun sebuah rumah. Dia membangunnya dengan baik dan indah, kecuali sebuah batu bangunan di pojoknya. Manusia-pun lantas melihat sekililingnya dan terkagum – kagum seraya berkomentar: ”Cuma kenapa tidak diletakkan batu di tempat itu?”

Beliau bersabda: “Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para Nabi”. (HR. Bukhori, no: 3535; Muslim, no: 2286; dll)

Rasulullah n juga bersabda:

لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ

Saya memiliki lima nama. Saya adalah Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah Al-Maahi (artinya: orang yang menghapus), Alloh menghapus kekafiran denganku, saya adalah Al-Haasyir (artinya: orang yang mengumpulkan), orang-orang akan dikumpulkan (pada harikiamat) di belakangku, saya adalah Al-‘Aaqib (‘Aaqib artinya orang yang tidak ada Nabi setelahnya). (Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 3532)

Keyakinan bahwa “Nabi Muhammad adalah penutup seluruh para Nabi dan Rosul, serta tidak ada Nabi lagi setelah beliau” merupakan ijma’ umat Islam, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi –semoga Alloh merahmatinya- , beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi, dan segala pengakuan Nabi sesudah baliau adalah al-ghoyy (kesesatan) dan hawa-nafsu”. (hlm: 217)

Imam Ibnmu Abil ‘Izzi Al-Hanafi berkata menjelaskan perkataan di atas: “Ketika telah pasti bahwa beliau adalah penutup para Nabi, maka dapat diketahui bahwa siapapun yang mengaku Nabi sesudahnya adalah pendusta. Al-Ghoyy (kesesatan) adalah lawan dari ar-Rosyaad (petunjuk). Sedangkan hawa adalah ungkapan untuk ambisi nafsu. Artinya, bahwa pengakuan ini didasari ambisi syahwat, bukan karena dalil; sehingga menjadi batil”. (hlm: 218)

AWAS NABI-NABI PALSU!

Walaupun aqidah Islam telah jelas dan nyata, bahwa tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad n , namun aneh dan nyata: banyak orang terpedaya dan tersesat karena meyakini ada Nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad n . Hal ini benar-benar terjadi di dalam sejarah –bahkan sampai sekarang kita melihatnya!-

Ketahuilah, sesungguhnya kejadian tersebut merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat yang telah disabdakan oleh Rosululloh n di dalam hadits-haditsnya yang shohih. Inilah di antaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:َ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Dari Abu Huroiroh, dari Nabi Muhammad, beliau telah bersabda: “Hari kiamat tidak akan muncul sampai keluar para pemalsu para pendusta (jumlah mereka) mendekati tigapuluh (orang). Mereka semua mengaku sebagai utusan Alloh. (HR. Bukhori, no: 3609; Tirmidzi, no: 2218)

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Dari Tsauban, dia berkata: Rosululloh bersabda: “Hari kiamat tidak akan muncul sampai beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik, dan sampai mereka akan menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku tigapuluh para pendusta, mereka semua mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup seluruh para Nabi, tidak ada Nabi setelahku. (HR. Tirmidzi, no: 2219; dishohihkan syaikh Al-Albani)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abdulloh bin Zubair penyebutan nama sebagian para pendusta tersebut dengan lafazh:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يخرج ثَلَاثُونَ كَذَّابًا مِنْهُمْ مُسَيْلَمَةُ وَالْعَنْسِي وَالْمُخْتَارُ

“Hari kiamat tidak akan muncul sampai keluar tiga puluh pendusta, di antara mereka Musailamah, Al-Ansi, dan Al-Mukhtar”.

Dan telah nampak perkara yang membenarkan hal itu pada zaman Nabi n , yaitu munculnya Musailamah di (kota) Yamamah, Al-aswadul-Ansi di Yaman, kemudian pada kekholifahan Abu Bakar muncul Thulaihah bin Khuwailid di Bani Asad bin Khuzaimah, dan muncul Sajaah Tamimiyah di Bani Tamim.

Al-Aswad dibunuh sebelum wafatnya Nabi n , dan Musailamah dibunuh pada kekholifahan Abu Bakar. Sedangkan Thulaihah bertaubat dan mati beragama Islam -menurut pandapat yang benar- pada kekholifahan Umar. Dan dinukilkan bahwa Saajah juga bertaubat. Berita tentang mereka ini terkenal di kalangan para ahli sejarah.

Kemudian –setelah zaman sahabat- pertama kali yang muncul di antara mereka adalah Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats-Tsaqofi. Dia menaklukkan kota Kufah pada awal kekholifahan Ibnu Zubair. Kemudian dia menampakkan kecintaan kepada ahli bait (keluarga Nabi) dan mangajak manusia untuk mencari para pembunuh Al-Husain, dia mengejar mereka dan membunuh banyak orang yang melakukan hal itu atau membantunya, maka orang-orangpun mencintainya. Kemudian setan menghias-hiasinya agar mengaku sebagai nabi dan menyangka bahwa Jibril mendatanginya. Dan Al-Mukhtar dibunuh pada tahun enam puluhan.

Di antara mereka adalah Al-Harits Al-Kadzdzab, dia muncul pada kekholifahan Abdul Malik bin Marwan, lalu dia dibunuh.

Pada zaman kekholifahan Bani ‘Abbas muncul banyak orang (yang mengaku sebagai Nabi).

Dan bukanlah yang dimaksudkan dengan hadits (bahwa jumlah mereka tigapuluh) secara mutlak, karena sesungguhnya mereka itu tidak terhitung banyaknya, karena mayoritas mereka, pengakuan sebagai Nabi itu muncul dari mereka dari sebab kegilaan atau kegelapan. Namun yang dimaksudkan adalah (Nabi palsu) yang memiliki kekuatan dan menampakkan kesamaran, sebagaimana telah kami jelaskan. Dan Alloh telah menghancurkan orang yang terjerumus padanya. Dan masih sisa di antara mereka orang-orang yang akan menyusul kawan-kawannya”.

Di zaman belakangan ini muncul Nabi palsu dari Qodian, India, yang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Dia memiliki pengikut-pengikut di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Mereka menyebut kelompok mereka dengan nama Jemaat Ahmadiyah.

Maka merupakan perkara yang sangat mengherankan dan sangat aneh bahwa ada orang yang mengaku sebagai orang Islam, mengakui Al-Qur’an itu benar, mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh, lalu dia mengaku sebagai Nabi, kemudian dia mendapatkan pengikut! Demikian juga yang mengherankan adalah kepercayaan sebagian manusia terhadap pengakuan itu! Sedangkan Al-Qur’an dan Al-Hadits telah memjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi dan tidak ada lagi Nabi sesudahnya.

Semoga sedikit penjelasan ini dapat menggugah kita semua tentang pentingnya ilmu, dan semoga Alloh akan selalu membimbing kita di atas jalan yang benar.

Rabu, 30 Juli 2008

Audio: Ilmu Syar’i Penangkal Aliran Sesat

Judul: Ilmu Syar’i Penangkal Aliran Sesat
Pengisi: Syaikh Husain bin Audah Al-Awaysyah (Yordania)
Penterjemah: Ustad Ali Nur
Lokasi: Masjid Agung Medan
Waktu: 14 Februari 2008 / 7 Safar 1429 H
Durasi: 1:23:23
Ukuran: 10007 KB
Download: silaturrahmi3-2008.mp3

Materi:

Satu fakta yang tidak bisa dibantah bahwa maraknya kemunculan beragam aliran sesat di negeri kita ini dan tidak sedikit pula orang-orang awam yang terjerat menjadi pengikutnya adalah disebabkan oleh jauhnya kita dari kukuatan ilmu syari’at. Benarnya pemahaman tentang ilmu syari’at sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah pada masyarakat kaum muslimin merupakan benteng terkuat untuk menangkal beragam pemikiran dan dakwah menyimpang yang disebarkan oleh aliran sesat yang akhir-akhir ini marak muncul.

Berangkat dari realita ini, maka tema “Ilmu Syar’i Pengkal Aliran Sesat” pada acara Silaturrahmi Akbar III - 2008 di Masjid Agung - Medan menunjukkan bahwa ilmu syari’at adalah sangat penting untuk kembali menjadi perhatian kita semua.

Senin, 14 Juli 2008

BAHAYA TAQLID BUTA

Setiap muslim wajib mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah di dalam kitabNya dan mengikuti Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Orang yang tidak ridha mengikuti apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tidaklah dinamakan muslim.

Allah Y berfirman:

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur : 51)

Sesungguhnya agama yang dibangun orang-orang Jahiliyah bukanlah atas dasar ilmu yang datang dengannya para rosul, akan tetapi mereka membangun atas dasar-dasar yang diada-adakan dari diri mereka sendiri dan nenek moyang serta tidak mau berpindah dari keyakinannya itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". Surat Az-Zukhruf : 23

Dalam ayat ini menjelaskan ketidak butuhanya mereka terhadap para rasul yang utus oleh Allah Y, akan tetapi lebih cenderung mengikuti nenek moyang mereka .

Perbuatan mereka inilah yang dikenal dengan Taqlid buta, yaitu mengikuti seseorang tanpa mengetahui dari mana sumber perkataannya dan tidak dengan dasar ilmu serta yang tidak layak untuk diikuti .

Oleh karena itulah Allah Y menceritakan orang-orang Jahiliyah dalam firman-Nya :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". Surat Al-Baqoroh : 170.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun tentang kelompok yahudi , Rasulullah r mengajak mereka untuk masuk islam , lalu mereka menjawab : “"(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami" Kemudian turunlah ayat ini. Lihat Tafsir Thobari 3/305 dan Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya kumpulan para ulama yang diketuai Syekh Shofiyurahman Mubarakfuri.hal 123.

Syekh Abdurahman bin Nashir As-Sa’di- Rohimahullah- berkata : Allah Y menerangkan keadaan orang-orang musyrik tatkala diperintahkan untuk mengikuti apa yang Allah Y turunkan kepada Rasul-Nya, mereka mengatakan : "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami" mereka mencukupkan dengan teqlid kepada bapak-bapak mereka dan menolak beriman kepada para Nabi.padahal bapak-bapak mereka orang yang paling bodoh dan sesat. Ini merupakan syubhat untuk menolak kebenaran dan melemahkanya. ( Taisir karimir rohman fi tafsir kalamil manan ).

Dan dalam firman Allah lainnya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? Surat Luqman : 21

Syekh Dr. Sholeh Al-Fauzan ( Anggota dewan fatawa KSA)– Hafizhohullah- ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata : Dan apabila dikatakan kepada orang-orang musyrik dan kafir “ Ikutilah apa yang diturunkan Allah Y “ yaitu Al-Qur’an tetapi mereka menjawab : ((Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka )) ya’ni setan itu menyeru bapak –bapak “ (( kedalam siksa api yang menyala-nyala)) apakah kalian akan mengikutinya ? yaitu mengikuti bapak-bapak kalian walaupun mereka pengikut setan dan tempat kembalinya kedalam neraka yang menyala-nyala? Seorang yang berakal dia senantiasa meneliti urusannya dan kepada siapa dia taqlid. Lihat Syarh Masa’il Jahiliyah hal : 57.

Katakanlah: "Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. Surat Saba’: 46

Ibnu Katsir –Rohimahullah- berkata: Allah Y berfirman : katakana ya Muhammad ! kepada orang-orang kafir yang menyangkamu gila : (( Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja)) yaitu aku memerintahkan kalian dengan satu hal saja ((supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu)) yaitu kamu tegak dan berdiri karena ikhlas kepada Allah Y tanpa hawa nafsu dan fanatik , lalu Ia bertanya kepada sebagian lainnya apakah Muhammad gila . lalu diantara mereka menasehati satu kepada lainnya ((Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) )) yaitu seseorang melihat dirinya sendiri tentang perkara Rasulullah r , dan bertanya kepada selainnya tentang nya ( Muhammad ), kalau dia merasa ragu terhadapnya, dan berfikir tentangnya ,maka itulah Allah Ta’ala berfirman : yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.)) inilah makna yang disebutkan oleh Mujahid , Muhammad Bin Ka’ab, Sudaiy , dan Qotadah serta selain mereka. Dan ini pulalah maksud dari ayat tersebut. Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya kumpulan para ulama yang diketuai Syekh Shofiyurahman Mubarakfuri hal : 1121

Syekh Dr Sholeh Al-Fauzan- Hafizhohullah-( seorang ulama besar Saudi Arabia dan anggota fatwa) berkata : Diantara penyebab seseorang menyimpang dari aqidah yang benar adalah Taqlid Buta . lihat kitab tauhid jilid pertama hal 13.

Dalam fatawa lajnah daimah ( dewan fatawa kerajaan Saudi Arabia ) mengatakan :

Taqlidnya orang yang tidak mampu mencari dalil dan menyimpulkan hukum-hukum kepada seorang ulama yang memiliki kapasitas untuk berijtihad dalam menentukan dalil-dalil syar’I , maka ini dibolehkan, sebagimana firman Allah Ta’ala :

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuanjika kamu tidak mengetahui,”Surat An-Nahl : 43.

Adapun taqlid kepada seseorang yang menyelisihi syariat islam dari kalangan nenek moyang , orang terkemuka dan para hakim dengan cara fanatik ataupun mengikuti hawa nafsu maka ini diharamkan menurut ijma’ ulama. ( Lihat fatawa lajnah daimah jilid kelima hal : 30.

Oleh karena itulah seorang yang berakal tatkala mendengar perkataan manusia, hendaklah berusaha untuk dapat membedakan dan memeriksanya serta menimbang kesalahan dengan kebenaran , lalu menerima kebenaran dan meninggalkan yang salah tidak bersih keras berada didalam taqlid buta terus menerus padahal sudah datang kepadanya kebenaran.( lihat kitab syarh masail Jahiliyah karya syekh Dr Sholeh Al-Fauzan – Hafizhohullah- hal: 59.

Mudah-mudahan bermanfaat. Amiin

KEDUDUKAN SYAHADATAIN

Dua syahadat, syahadat Laa ilaaha illa Alloh dan syahadat Muhammad Rosululloh, memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam agama Islam. Laa ilaaha illa Alloh merupakan kalimat tauhid, sedangkan syahadat Muhammad Rosululloh meruipakan jalan dan prakteknya. Sehingga kedua syahadat ini tidak dapat dipisahkan. Jika disebut syahadat Laa ilaaha illa Alloh, maka ini mengharuskan syahadat Muhammad Rosululloh. Dan jika disebut syahadat Muhammad Rosululloh, maka ini mengandung syahadat Laa ilaaha illa Alloh.

Untuk mengetahui hal ini, di sini akan kami sampaikan beberapa keterangan yang menunjukkan tingginya nilai syahadatain.

Syahadatain Merupakan Jalan Ke Surga

Nabi Muhammad r bersabda:

((مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةُ))

“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) Laa ilaaha illa Alloh, dia pasti akan masuk sorga”. [Hadits Shohih Riwayat Al-Bazzar dari Ibnu ‘Umar. Lihat: Ash-Shohihah no: 2344; Shohihul Jami’ no: 6318]

Beliau r juga bersabda:

((مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ , حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ))

“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) Laa ilaaha illa Alloh, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Alloh, niscaya Alloh haramkan neraka atasnya.” [Hadits Shohih Riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dari ‘Ubadah. Shohih Al-Jami’ush Shoghir, no: 6319]

Beliau r juga bersabda:

((مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ))

“Barangsiapa bersyahadat (bersaksi)

· Laa ilaaha illa Alloh, tidak ada sekutu bagiNya,

· dan bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya,

· dan bahwa Isa adalah hambaNya, RasulNya, dan kalimatNya yang Dia berikan kepada Maryam, serta ruh (ciptaan)Nya,

· dan bahwa sorga benar-benar ada,

· dan bahwa neraka benar-benar ada,

pasti Alloh akan memasukkannya ke dalam sorga sesuai dengan amalannya.” [Hadits Shohih Riwayat Bukhari, no: 3435; Muslim, no: 28; dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit]

Al-Qodhi ‘Iyadh –semoga Alloh merahmatinya- berkata: “Apa yang tersebut di dalam hadits Ubadah, adalah khusus bagi orang yang mengucapkan apa yang telah disebutkan oleh Nabi r, dan dia menggabungkan pada syahadatain dengan hakekat iman dan tauhid yang telah tersebut di dalam hadits itu. Sehingga dia akan mendapatkan balasan yang akan memberatkan (kebaikannya) terhadap keburukan-keburukannya, dan menyebabkan ampunan dan rohmat baginya serta masuk sorga pada awal waktu”. [Kitab Fathul Majid, hlm: 42, karya: Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, penerbit: Dar Ibni Hazm]


Syahadatain Merupakan Rukun Islam Yang Pertama

Maka syahadatain merupakan kewajiban pertama dan terbesar atas hamba.

Nabi r bersabda:

((بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ))

Islam dibangun di atas lima (tiang): syahadat Laa ilaaha illa Alloh dan syahadat Muhammad Rosululloh; menegakkan sholat; membayar zakat; haji; dan puasa Romadhon. [Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 8; Muslim, no: 16; dll]

Imam Ibnu Rojab Al-Hambali (wafat tahun 795 H) berkata: “Maksud hadits ini adalah menggambarkan Islam sebagai bangunan, tiang-tiangnya adalah lima ini. Maka Islam tidak akan beridiri tanpa lima ini. Adapun bagian-bagian Islam lainnya (selain lima ini), merupakan pelengkap bangunan. Jika ada di antara bagiannya tidak ada, maka bangunan itu kurang, dan masih tegak, tidak roboh dengan sebab berkurangnya bagian itu. Berbeda dengan robohnya lima tiang ini. Karena sesungguhnya Islam akan hilang dengan tiadanya lima tiang semuanya, tanpa keraguan. Demikian juga, Islam hilang dengan ketiadaan syahadatain”. [Kitab Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, juz: 1, hlm: 145; tahqiq: Syakh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh Ibrohim Bajis]

Syahadatain Merupakan Pintu Gerbang Menuju Islam

Ketika Nabi r mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:

((إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ أَنْ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ))

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illa Alloh”. [Hadits Riwayat Bukhari no: 4347; Muslim no: (29)(30)]

Oleh karena itulah, tanpa syahadatain, Islam tidak ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat th: 728 H) berkata: “Tiap-tiap orang kafir (wajib) diajak kepada syahadatain, baik orang kafir itu adalah seorang mu’aththil (orang yang tidak percaya adanya Alloh), atau musyrik (orang yang menyekutukan Alloh), atau Kitabi (orang Yahudi atau Nashrani). Dengan syahadatain itulah orang kafir menjadi orang Islam, dan dia tidak menjadi orang Islam kecuali dengan itu”. [Dar’ut Ta’arudh, juz: 8, hlm: 7]

Tauhid Adalah Sebab Disyari’atkannya Jihad

Alloh I berfirman:

{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ}

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah (syirik) lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Alloh belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zholim. [QS. Al-Baqoroh (2): 193]

Arti fitnah dalam ayat di atas adalah syirik, sebagaimana pendapat para ahli tafsir yang disebutkan oleh imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rohimahulloh – berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Alloh I menyebutkan maksud peperangan di jalanNya, yaitu bahwa maksudnya bukanlah untuk menumpahkan darah orang-orang kafir dan mengambil harta mereka. Tetapi maksudnya agar agama itu hanya untuk Alloh belaka, sehingga agama Alloh menjadi menang di atas agama-agama lainnya, dan untuk menolak perkara-perkara yang bertentangan dengan agama, seperti syirik dan lainnya, inilah yang dimaksud dengan fitnah. Maka jika maksud ini telah tercapai, tidak ada lagi pembunuhan dan peperangan.” [Kitab Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan, surat Al-Baqoroh, ayat: 193]

Rosululloh r juga menjelaskan tujuan jihad dalam Islam dengan sabda beliau:

((أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ))

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat (bersaksi) Laa ilaaha illa Alloh dan Muhammad Rosululloh, menegakkan sholat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukannya, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka di sisi Alloh.” [Hadits Shohih Riwayat Bukhari, no: 25; Muslim, no: 22; dan lainnya, dari Ibnu Umar]

Setelah kita mengetahui keutamaan dan kedudukan syahadatain yang sangat tinggi ini, maka kita wajib mengerahkan segenap kemampuan untuk memahami dengan sebenar-benarnya masalah syahadat ini. Hanya Alloh tempat mohon pertolongan. Al-hamdulillah robbil ‘alamin.


 

Design by Free Islamic Blogger Template for Pancaran Cahaya Sunnah