Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Agustus 2008

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Disusun oleh: Muslim Atsari

Alloh Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan kita hanyalah agar kita beribadah kepadaNya. Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

Demikian juga bahwa seluruh utusan Alloh, memulai seruan mereka agar manusia beribadah hanya kepadaNya. Dan perintah pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an adalah perintah beribadah hanya kepada Alloh semata. Yaitu firman Alloh Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {21}

Hai manusia, beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqoroh (2): 21)

Oleh karena itu, kita wajib memperhatikan ibadah ini, baik secara ilmu maupun amal. Maka apakah ibadah itu?

MAKNA IBADAH

Makna ibadah secara bahasa adalah: ketundukan dan kerendahan/kepatuhan, seperti perkataan bahasa Arab: “thoriiq mu’abbad” artinya: jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’iir mu’abbad” artinya onta yang patuh.

Adapun makna ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H) berkata: “Ibadah adalah: satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi)

Imam Ibnu Katsir t (wafat 774 H) berkata: “Di dalam (istilah) syari’at (ibadah) adalah: suatu ungkapan dari apa yang menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan, ketundukan, dan rasa takut”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah, ayat: 5)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t berkata: “Ibadah digunakan pada dua perkara (dua makna):

Pertama: ta’abbud (perbuatan ibadah), maka ini maknanya adalah: merendahkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dengan kecintaan dan pengagungan.

Kedua: muta’abbadu bihi (sebagai obyek; yang digunakan untuk beribadah), maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t , yaitu: Istilah yang meliputi seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Kitab Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid, juz:1, hal:10)

CARA MELAKSANAKAN IBADAH

Dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t di atas kita mengetahui bahwa cara beribadah kepada Alloh adalah dengan menjalankan perintah-perintahNya, baik perintah wajib atau mustahab (sunnah) dan menjauhi larangan-laranganNya, baik larangan harom atau makruh. Hal itu dilakukan dengan penuh kecintaan dan pengagungan, berharap rohmat Alloh dan takut terhadap siksaNya.

Oleh karena itu untuk beribadah membutuhkan ilmu agama, berdasarkan dalil-dalil Al-Kitab danAs-Sunnah. Karena kita tidak akan mengetahui perintah Alloh untuk dikerjakan kecuali dengan dalil. Dan kita juga tidak akan mengetahui laranganNya untuk ditinggalkan kecuali dengan dalil. Maka beribadah kepada Alloh hanyalah dengan mengikuti Nabi Muhammad n , mentaati Alloh dan RosulNya. Mentaati terhadap perintah dengan cara melaksanakannya, mentaati larangan, dengan cara meninggalkannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imron (3): 31)

Dan telah diketahui bahwa selain mengikuti tuntunan Nabi Muhammad n , ibadah akan diterima oleh Alloh jika dilakukan dengan ikhlas, dan didasari dengan iman. Tiga hal inilah syarat diterimanya ibadah.

CAKUPAN IBADAH

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ibadah kepada Alloh meliputi seluruh sisi kehidupan manusia, yang lahir maupun yang batin. Inilah di antara dalil-dalil yang menunjukkan cakupan ibadah itu mengenai seluruh sisi kehidupan manusia:

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {162} لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذّلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ {163}

Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)". (QS. Al-An’am (6): 163)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia.

Juga firman Alloh Ta’ala:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Sebab turun ayat ini adalah perselisihan dua sahabat tentang pengairan kebun, kemudian Rosululloh memberikan keputusan di antara mereka. Namun salah seorang dari mereka tidak menerima keputusan Rosulullah, maka turunlah ayat ini. Ayat ini menunjukkan kewajiban menerima keputusan Rosulullah dalam segala perkara, baik masalah pengairan, sebagaimana sebab turunnya ayat ini, maupun lainnya.

KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA IBADAH

Ada dua kelompok manusia yang salah di dalam memahami makna ibadah. Mereka adalah:

1- Kelompok orang yang mempersempit makna ibadah.

Mereka membatasi ibadah hanyalah perbuatan ritual yang berhubungan dengan Alloh saja. Atau menganggap bahwa ibadah itu hanya dilakukan di masjid saja. Sehingga ketika kepada kelompok orang ini disampaikan perintah atau larangan yang berkaitan dengan makan-minum, berpakaian, pergaulan, kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik, pernikahan, atau lainnya yang diatur oleh agama Islam, mereka menolak dengan alasan agama tidak boleh mengatur hal-hal tersebut! Alangkah sombongnya mereka terhadap Alloh, Pencipta mereka, yang telah membuat syari’at untuk mereka!!

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ {32}

Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali-‘Imron (3): 32)

Ayat ini menunjukkan wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum, dalam perkara apa saja.

2- Kelompok orang yang melewati batas dalam agama.

Mereka menganggap sesuatu yang bukan ibadah sebagai ibadah. Membuat perkara-perkara baru di dalam agama, dengan akalnya atau perasaannya. Melakukan ibadah tanpa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya sekedar kebiasaan atau adat yang tidak dituntunkan oleh Alloh dan RosulNya. Padahal ibadah itu harus berdasarkan dalil dan petunjuk dari Alloh dan RosulNya. Jika tidak, maka tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

Dengan penjelasan ini, kita memahami keagungan agama Islam, agama yang haq, yang mengajarkan segala perkara yang dibutuhkan bagi umat manusia. Maka seharusnya manusia menerima agama mulia ini. Hanya Alloh Pemberi taufiq. Al-hamdulillah robbil ‘alamin.

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

Disusun oleh: Muslim Atsari

Sesungguhnya kemuliaan hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun juga. Semakin seorang hamba menambah ketundukan dan peribadahan kepada Penciptanya, maka semakin bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya.

Ibadah adalah hak Alloh yang menjadi kewajiban hamba, dan kebaikannya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Karena sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan hambaNya.

Hamba tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Alloh dengan benar hanya dengan akal dan perasaannya. Maka Alloh mengutus Rosul-RosulNya dan menurunkan kitab-kitanNya untuk memberikan petunjukNya.

Alloh berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124}

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha (20):123)

Ibadah yang benar kepada Alloh dibangun di atas dasar-dasar atau kaedah-kaedah yang kokoh. Inilah ringkasan kaedah-kaedah tersebut:

1- Ibadah adalah tauqiifiyah.

Maknanya tidak melakukan ibadah kecuali dengan yang diperintahkan atau dituntunkan, berdasarkan wahyu Alloh Ta’ala. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah.

Alloh berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيٌر {112}

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa beribadah harus mengikuti perintah Alloh dan tidak boleh melewati batas.

2- Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bersih dari noda-noda syirik.

Yaitu ibadah itu dilakukan semata-mata mencari ridho Alloh Ta’ala, mengharap rohmatNya dan takut terhadap siksaNya.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. (HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah Ash-Shohihah, no: 52; Ahkamul Janaiz, hal: 63)

Jika ibadah itu dicampuri syirik, maka syirik itu menggugurkan ibadah tersebut, berapapun banyaknya ibadah itu!

Alloh berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ {65}

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar (39):65)

3- Ibadah harus meneladani Nabi Muhammad n (mutaba’ah).

Alloh berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا {21}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Allah dan (pahala) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. (QS. Al-Ahzab (33):21)

Maka siapapun yang beribadah dengan tidak mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, maka ibadah itu tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka urusan itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

4- Ibadah yang telah ditetapkan: sebab, jenis, kadar, cara, waktu, dan tempatnya, wajib dilakukan sebagaimana yang dituntunkan. Tidak boleh melanggar ketentuan-ketentuan tersebut.

Contoh: Alloh telah menentukan waktu-waktu ibadah sholat, maka tidak boleh melakukan di luar ketentuan. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا {103}

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). (QS. An-nisa’ (4):103)

5- Ibadah harus dilakukan dengan dasar kecintaan, berharap rohmat Alloh, takut siksaNya dan disertai ketundukan dan pengangungan kepada Alloh.

Ketika Alloh memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَ رَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ {90}

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’ (21): 90)

6- Kewajiban ibadah tidak gugur dari hamba, semenjak baligh sampai meninggal dunia.

Alloh Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {102}

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-‘Imron (3):102)

Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Alloh, yaitu Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, berkewajiban beribadah sampai wafat, maka orang-orang yang derajatnya di bawah beliau lebih wajib untuk beribadah kepada Alloh sampai matinya.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ {99}

Dan beribadahlah kepada Robbmu (Penguasamu) sampai al-yaqiin (kematian) datang kepadamu (QS. Al-Hijr (15):99)

Para ulama ahli tafsir bersepakat bahwa makna al-yaqiin di dalam ayat ini maknanya adalah kematian. Hal ini seperti firman Alloh pada ayat lain, yang memberitakan pertanyaan penduduk sorga kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ{42} قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ {43} وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ {44} وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَآئِضِينَ {45} وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ {46} حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ {47}

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al-yaqiin (kematian)". (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-47)

Setelah kita mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa anggapan “kewajiban beribadah kepada Alloh dengan syari’at Nabi Muhammad” gugur pada orang yang telah mencapai hakekat atau ma’rifat, merupakan anggapan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits dan kesepakatan umat Islam semenjak dahulu.

Inilah 6 kaedah penting berkaitan masalah ibadah, semoga bermanfaat.

Senin, 14 Juli 2008

BAHAYA TAQLID BUTA

Setiap muslim wajib mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah di dalam kitabNya dan mengikuti Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Orang yang tidak ridha mengikuti apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tidaklah dinamakan muslim.

Allah Y berfirman:

“ Sesungguhnya jawaban orang-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur : 51)

Sesungguhnya agama yang dibangun orang-orang Jahiliyah bukanlah atas dasar ilmu yang datang dengannya para rosul, akan tetapi mereka membangun atas dasar-dasar yang diada-adakan dari diri mereka sendiri dan nenek moyang serta tidak mau berpindah dari keyakinannya itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“ Dan Demikianlah, kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". Surat Az-Zukhruf : 23

Dalam ayat ini menjelaskan ketidak butuhanya mereka terhadap para rasul yang utus oleh Allah Y, akan tetapi lebih cenderung mengikuti nenek moyang mereka .

Perbuatan mereka inilah yang dikenal dengan Taqlid buta, yaitu mengikuti seseorang tanpa mengetahui dari mana sumber perkataannya dan tidak dengan dasar ilmu serta yang tidak layak untuk diikuti .

Oleh karena itulah Allah Y menceritakan orang-orang Jahiliyah dalam firman-Nya :

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". Surat Al-Baqoroh : 170.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun tentang kelompok yahudi , Rasulullah r mengajak mereka untuk masuk islam , lalu mereka menjawab : “"(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami" Kemudian turunlah ayat ini. Lihat Tafsir Thobari 3/305 dan Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya kumpulan para ulama yang diketuai Syekh Shofiyurahman Mubarakfuri.hal 123.

Syekh Abdurahman bin Nashir As-Sa’di- Rohimahullah- berkata : Allah Y menerangkan keadaan orang-orang musyrik tatkala diperintahkan untuk mengikuti apa yang Allah Y turunkan kepada Rasul-Nya, mereka mengatakan : "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami" mereka mencukupkan dengan teqlid kepada bapak-bapak mereka dan menolak beriman kepada para Nabi.padahal bapak-bapak mereka orang yang paling bodoh dan sesat. Ini merupakan syubhat untuk menolak kebenaran dan melemahkanya. ( Taisir karimir rohman fi tafsir kalamil manan ).

Dan dalam firman Allah lainnya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? Surat Luqman : 21

Syekh Dr. Sholeh Al-Fauzan ( Anggota dewan fatawa KSA)– Hafizhohullah- ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata : Dan apabila dikatakan kepada orang-orang musyrik dan kafir “ Ikutilah apa yang diturunkan Allah Y “ yaitu Al-Qur’an tetapi mereka menjawab : ((Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka )) ya’ni setan itu menyeru bapak –bapak “ (( kedalam siksa api yang menyala-nyala)) apakah kalian akan mengikutinya ? yaitu mengikuti bapak-bapak kalian walaupun mereka pengikut setan dan tempat kembalinya kedalam neraka yang menyala-nyala? Seorang yang berakal dia senantiasa meneliti urusannya dan kepada siapa dia taqlid. Lihat Syarh Masa’il Jahiliyah hal : 57.

“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. Surat Saba’: 46

Ibnu Katsir –Rohimahullah- berkata: Allah Y berfirman : katakana ya Muhammad ! kepada orang-orang kafir yang menyangkamu gila : (( Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja)) yaitu aku memerintahkan kalian dengan satu hal saja ((supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu)) yaitu kamu tegak dan berdiri karena ikhlas kepada Allah Y tanpa hawa nafsu dan fanatik , lalu Ia bertanya kepada sebagian lainnya apakah Muhammad gila . lalu diantara mereka menasehati satu kepada lainnya ((Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) )) yaitu seseorang melihat dirinya sendiri tentang perkara Rasulullah r , dan bertanya kepada selainnya tentang nya ( Muhammad ), kalau dia merasa ragu terhadapnya, dan berfikir tentangnya ,maka itulah Allah Ta’ala berfirman : yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.)) inilah makna yang disebutkan oleh Mujahid , Muhammad Bin Ka’ab, Sudaiy , dan Qotadah serta selain mereka. Dan ini pulalah maksud dari ayat tersebut. Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir karya kumpulan para ulama yang diketuai Syekh Shofiyurahman Mubarakfuri hal : 1121

Syekh Dr Sholeh Al-Fauzan- Hafizhohullah-( seorang ulama besar Saudi Arabia dan anggota fatwa) berkata : Diantara penyebab seseorang menyimpang dari aqidah yang benar adalah Taqlid Buta . lihat kitab tauhid jilid pertama hal 13.

Dalam fatawa lajnah daimah ( dewan fatawa kerajaan Saudi Arabia ) mengatakan :

Taqlidnya orang yang tidak mampu mencari dalil dan menyimpulkan hukum-hukum kepada seorang ulama yang memiliki kapasitas untuk berijtihad dalam menentukan dalil-dalil syar’I , maka ini dibolehkan, sebagimana firman Allah Ta’ala :

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuanjika kamu tidak mengetahui,”Surat An-Nahl : 43.

Adapun taqlid kepada seseorang yang menyelisihi syariat islam dari kalangan nenek moyang , orang terkemuka dan para hakim dengan cara fanatik ataupun mengikuti hawa nafsu maka ini diharamkan menurut ijma’ ulama. ( Lihat fatawa lajnah daimah jilid kelima hal : 30.

Oleh karena itulah seorang yang berakal tatkala mendengar perkataan manusia, hendaklah berusaha untuk dapat membedakan dan memeriksanya serta menimbang kesalahan dengan kebenaran , lalu menerima kebenaran dan meninggalkan yang salah tidak bersih keras berada didalam taqlid buta terus menerus padahal sudah datang kepadanya kebenaran.( lihat kitab syarh masail Jahiliyah karya syekh Dr Sholeh Al-Fauzan – Hafizhohullah- hal: 59.

Mudah-mudahan bermanfaat. Amiin

 

Design by Free Islamic Blogger Template for Pancaran Cahaya Sunnah: Manhaj