Sabtu, 09 Agustus 2008

LARANGAN ISBAL BAGI LAKI-LAKI

LARANGAN ISBAL BAGI LAKI-LAKI

Disusun oleh: Muslim Atsari

Sesungguhnya agama Islam mengatur kehidupan manusia dalam semua sisi kehidupannya, sehingga akan membawa kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Demikian juga dalam masalah pakaian, agama Islam juga membuat aturan-aturan. Salah satu larangan agama yang berkaitan dengan pakaian adalah isbal bagi laki-laki. Karena banyak orang yang belum mengerti atau memahami larangan ini, maka di sini kami akan menyampaikan keterangan tentangnya, semoga bermanfaat.

1- Makna Isbal.

Isbal secara bahasa: artinya: menurunkan, melepaskan, dll.

Yang dimaksudkan di sini adalah: memanjangkan pakaian (sarung, celana panjang, baju, dll) sehingga menutupi mata kaki.

2- Hukum Isbal Yang Disertai Kesombongan.

Isbal dengan disertai kesombongan hukumnya harom dengan kesepakatan ulama. Di antara dalilnya adalah:

1) Firman Alloh:

وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al-Isra’ (17): 37)

Ayat ini menunjukkan haromnya kesombongan, baik dengan isbal maupun tidak.

2) Ancaman terhadap orang yang menyeret pakaiannya dengan sebab sombong.

Rasululloh bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Alloh tidak akan melihat orang yang menyeret pakaiannya dengan sebab sombong. (HR.Bukhori, no: 5788; Muslim, no: 2087; dari Abu Huroiroh. Riyadhus Sholihin, no: 792))

3- Hukum Isbal Tanpa Kesombongan

Ulama berselisih tentang hukum isbal bagi laki-laki tanpa disertai kesombongan. Haram atau tidak? Pendapat yang lebih kuat, hukumnya juga harom, berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Ancaman isbal secara umum.

Rasululloh bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Sarung yang di bawah mata kaki di dalam neraka.

(HR.Bukhori, no: 5787; Nasai 8/207, dari Abu Huroiroh. Riyadhus Sholihin, no: 793)

Di dalam hadits ini Nabi n tidak membedakan antara isbal dengan kesombongan atau tidak, sehingga ancaman di dalam hadits ini umum, mengenai semuanya.

2. Isbal termasuk kesombongan.

Rasululloh bersabda kepada Jabir bin Sulaim:

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

Angkatlah sarungmu sampai pertengahan betis, jika engkau enggan maka sampai kedua mata kaki. Janganlah engkau mengisbal sarung, karena sesungguhnya itu termasuk kesombongan. Dan Alloh tidak menyintai kesombongan. (HR.Abu Dawud, no: 4084, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani)

3. Sifat sarung orang mukmin adalah pertengahan betis.

Rasululloh bersabda:

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلَا حَرَجَ أَوْ لَا جُنَاحَ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِن َ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِي النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

Keadaan sarung seorang muslim sampai pertengahan betis, dan tidak dosa antaranya dengan kedua mata kaki. Apa yang di bawah mata kaki, maka itu di dalam neraka. Dan barangsiapa menyeret sarungnya dengan kesombongan, Alloh tidak akan melihatnya. (HR.Abu Dawud, no: 4093; Ibnu Majah, no: 3573; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, lihat Ash-Shohihah, 2017. Riyadhus Sholihin, no: 799)

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَسْفَلِ عَضَلَةِ سَاقِي أَوْ سَاقِهِ فَقَالَ هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبَيْتَ فَأَسْفَلَ فَإِنْ أَبَيْتَ فَلَا حَقَّ لِلْإِزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ

Dari Hudzaifah, dia berkata: “Rasululloh memegang sebelah bawah daging betisku (atau betisnya), lalu bersabda: “Ini tempat sarung, jika engkau enggan maka lebih bawah, jika engkau enggan maka lebih bawah, jika engkau enggan maka tidak ada hak untuk sarung pada kedua mata kaki”. (HR.Ibnu Majah, no: 3572; Nasai 8/206. Dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, lihat: Ash-Shohihah, no: 1765, 2366)

4. Alloh tidak mencintai musbil (orang yang berbuat isbal).

Rasululloh bersabda kepada Sufyan bin Sahl:

لاَ تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Janganlah engkau melakukan isbal, karena sesungguhnya Alloh tidak menyintai orang-orang yang melakukan isbal. (HR.Ibnu Majah, no:3574, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, lihat Ash-Shohihah, no 2862)

5. Perintah Nabi untuk menaikkan sarung, sedangkan hukum asal perintah adalah wajib.

Ibnu Umar berkata:

مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ زِدْ فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ إِلَى أَيْنَ فَقَالَ أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

“Aku melewati Rasululloh, sedangkan sarungku turun, maka beliau bersabda: “Wahai Abdulloh, angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya. Lalu beliau bersabda; “Tambahlah!” Maka aku menambahkan. Setelah itu aku selalu menjaganya.” Sebagian orang bertanya: “Sampai mana?” Ibnu Umar berkata: “Pertengahan betis”. (HR. Muslim, no: 2086. Riyadhus Sholihin, no: 800)

Pada riwayat Ahmad disebutkan bahwa Zaid bin Aslam berkata: bahwa Ibnu Umar bercerita: Bahwa Nabi melihatnya memakai sarung baru, beliau bertanya:

مَنْ هَذَا فَقُلْتُ أَنَا عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ عَبْدَ اللَّهِ فَارْفَعْ إِزَارَكَ قَالَ فَرَفَعْتُهُ قَالَ زِدْ قَالَ فَرَفَعْتُهُ حَتَّى بَلَغَ نِصْفَ السَّاقِ قَالَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّهُ يَسْتَرْخِي إِزَارِي أَحْيَانًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِنْهُمْ

“Siapa ini?” Aku menjawab: “Abdulloh”. Beliau bersabda: “Jika engkau Abdulloh, maka angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya. Lalu beliau bersabda; “Tambahlah!” Maka aku menaikkannya sehingga sampai pertengahan betis”. Kemudian beliau menoleh kepada Abu Bakar sambil bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya dengan sebab sombong, Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Lalu Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya terkadang sarungku turun”. Maka Nabi bersabda: “Engkau tidak termasuk mereka”. (HR. Ahmad, no: 6056)

6. Isbal termasu isrof (melewati batas) (Fathul Bari 10/318)

Rasululloh bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bershodaqohlah, dengan tanpa melewati batas dan kesombongan. (HR. Bukhori secara mu’allaq; Abu Dawud Ath-Thoyalisi dan Al-Harist bin Abi Usamah dalam Musnad keduanya; Ibnu Abi Dunya dalam kitab Asy-Syukr; dan At-Tirmidzi; Lihat Fathul Bari, kitab; Libas)

7. Isbal termasuk tasyabbuh (menyerupai) pakaian wanita.

Ketika Rasululloh menyebutkan tentang isbal pada sarung, maka Ummu Salamah bertanya:

فَالْمَرْأَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُرْخِي شِبْرًا قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا قَالَ فَذِرَاعًا لَا تَزِيدُ عَلَيْهِ

Bagaimana wanita wahai Rasululloh?, Beliau menjawab: “Wanita menurunkan sejengkal”. Ummu Salamah berkata: “Kalau begitu (telapak kakinya) terbuka”. Beliau bersabda: “Kalau begitu sehasta, dia tidak boleh menambah lagi”. (HR. Abu Dawud, Nasai, dll)

8. Isbal tidak aman dari barang najis.

Ketika kholifah Umar ditikam saat sholat subuh, sehingga beliau sakit parah dan dibawa ke rumahnya. Beliau diberi minum sari buah, lalu minuman itu keluar lewat perutnya, lalu diberi minum susu, lalu susu itu juga keluar lewat perutnya. Maka orang-orangpun mengetahui bahwa beliau akan wafat. Banyak orang datang memuji beliau. Lalu datanglah seorang pemuda yang menghibur dan memuji berbagai keutamaan Umar. Ketika pemuda itu berpaling, ternyata sarung pemuda itu menyentuh tanah. Umar memerintahkan agar orang-orang mengembalikan anak itu kepada beliau, lalu berkata:

يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَأَتْقَى لِرَبِّكَ

Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu, itu lebih awet untuk pakaianmu, dan lebih taqwa kepada Robbmu. (HR. Bukhori, no: 3700)

9. Tidak isbal karena meneladani Nabi

Sahabat Ubaid bin Kholid Al-Muharibi berkata:

إِنِّي لَبِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ عَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي مَلْحَاءُ أَسْحَبُهَا قَالَ فَطَعَنَنِي رَجُلٌ بِمِخْصَرَةٍ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى وَأَنْقَى فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ

Aku berada di pasar Dzil Majaz mengenakan burdah bergaris-garis hitam dan putih milikku, aku menyeretnya. Lalu seorang laki-laki menekanku dengan tongkatnya, sambil berkata: “Angkatlah sarungmu, itu lebih awet dan lebih bersih. (Tidakkah padaku terdapat teladan bagimu?)”. Lalu aku memandang, ternyata dia adalah Rasululloh, lalu aku memandang ternyata sarung beliau sampai pertengahan kedua betis beliau. (HR. Ahmad, no:22007; tambahan dalam kurung riwayat Tirmidzi dalam Asy-Syamail)

Kesimpulan: Dari penjelasan di atas, jelas bahwa isbal hukumnya haram bagi laki-laki, jika disertai kesombongan maka dosanya lebih besar dan ancamannya lebih berat. Al-hamdulillah Robbil ‘Alamin.

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Disusun oleh: Muslim Atsari

Alloh Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan kita hanyalah agar kita beribadah kepadaNya. Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

Demikian juga bahwa seluruh utusan Alloh, memulai seruan mereka agar manusia beribadah hanya kepadaNya. Dan perintah pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an adalah perintah beribadah hanya kepada Alloh semata. Yaitu firman Alloh Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {21}

Hai manusia, beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqoroh (2): 21)

Oleh karena itu, kita wajib memperhatikan ibadah ini, baik secara ilmu maupun amal. Maka apakah ibadah itu?

MAKNA IBADAH

Makna ibadah secara bahasa adalah: ketundukan dan kerendahan/kepatuhan, seperti perkataan bahasa Arab: “thoriiq mu’abbad” artinya: jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’iir mu’abbad” artinya onta yang patuh.

Adapun makna ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H) berkata: “Ibadah adalah: satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi)

Imam Ibnu Katsir t (wafat 774 H) berkata: “Di dalam (istilah) syari’at (ibadah) adalah: suatu ungkapan dari apa yang menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan, ketundukan, dan rasa takut”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah, ayat: 5)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t berkata: “Ibadah digunakan pada dua perkara (dua makna):

Pertama: ta’abbud (perbuatan ibadah), maka ini maknanya adalah: merendahkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dengan kecintaan dan pengagungan.

Kedua: muta’abbadu bihi (sebagai obyek; yang digunakan untuk beribadah), maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t , yaitu: Istilah yang meliputi seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Kitab Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid, juz:1, hal:10)

CARA MELAKSANAKAN IBADAH

Dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t di atas kita mengetahui bahwa cara beribadah kepada Alloh adalah dengan menjalankan perintah-perintahNya, baik perintah wajib atau mustahab (sunnah) dan menjauhi larangan-laranganNya, baik larangan harom atau makruh. Hal itu dilakukan dengan penuh kecintaan dan pengagungan, berharap rohmat Alloh dan takut terhadap siksaNya.

Oleh karena itu untuk beribadah membutuhkan ilmu agama, berdasarkan dalil-dalil Al-Kitab danAs-Sunnah. Karena kita tidak akan mengetahui perintah Alloh untuk dikerjakan kecuali dengan dalil. Dan kita juga tidak akan mengetahui laranganNya untuk ditinggalkan kecuali dengan dalil. Maka beribadah kepada Alloh hanyalah dengan mengikuti Nabi Muhammad n , mentaati Alloh dan RosulNya. Mentaati terhadap perintah dengan cara melaksanakannya, mentaati larangan, dengan cara meninggalkannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imron (3): 31)

Dan telah diketahui bahwa selain mengikuti tuntunan Nabi Muhammad n , ibadah akan diterima oleh Alloh jika dilakukan dengan ikhlas, dan didasari dengan iman. Tiga hal inilah syarat diterimanya ibadah.

CAKUPAN IBADAH

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ibadah kepada Alloh meliputi seluruh sisi kehidupan manusia, yang lahir maupun yang batin. Inilah di antara dalil-dalil yang menunjukkan cakupan ibadah itu mengenai seluruh sisi kehidupan manusia:

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {162} لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذّلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ {163}

Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)". (QS. Al-An’am (6): 163)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia.

Juga firman Alloh Ta’ala:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Sebab turun ayat ini adalah perselisihan dua sahabat tentang pengairan kebun, kemudian Rosululloh memberikan keputusan di antara mereka. Namun salah seorang dari mereka tidak menerima keputusan Rosulullah, maka turunlah ayat ini. Ayat ini menunjukkan kewajiban menerima keputusan Rosulullah dalam segala perkara, baik masalah pengairan, sebagaimana sebab turunnya ayat ini, maupun lainnya.

KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA IBADAH

Ada dua kelompok manusia yang salah di dalam memahami makna ibadah. Mereka adalah:

1- Kelompok orang yang mempersempit makna ibadah.

Mereka membatasi ibadah hanyalah perbuatan ritual yang berhubungan dengan Alloh saja. Atau menganggap bahwa ibadah itu hanya dilakukan di masjid saja. Sehingga ketika kepada kelompok orang ini disampaikan perintah atau larangan yang berkaitan dengan makan-minum, berpakaian, pergaulan, kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik, pernikahan, atau lainnya yang diatur oleh agama Islam, mereka menolak dengan alasan agama tidak boleh mengatur hal-hal tersebut! Alangkah sombongnya mereka terhadap Alloh, Pencipta mereka, yang telah membuat syari’at untuk mereka!!

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ {32}

Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali-‘Imron (3): 32)

Ayat ini menunjukkan wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum, dalam perkara apa saja.

2- Kelompok orang yang melewati batas dalam agama.

Mereka menganggap sesuatu yang bukan ibadah sebagai ibadah. Membuat perkara-perkara baru di dalam agama, dengan akalnya atau perasaannya. Melakukan ibadah tanpa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya sekedar kebiasaan atau adat yang tidak dituntunkan oleh Alloh dan RosulNya. Padahal ibadah itu harus berdasarkan dalil dan petunjuk dari Alloh dan RosulNya. Jika tidak, maka tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

Dengan penjelasan ini, kita memahami keagungan agama Islam, agama yang haq, yang mengajarkan segala perkara yang dibutuhkan bagi umat manusia. Maka seharusnya manusia menerima agama mulia ini. Hanya Alloh Pemberi taufiq. Al-hamdulillah robbil ‘alamin.

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

MAKNA SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

Disusun oleh Muslim Atsari

Rukun Islam yang pertama dan paling utama adalah syahadat Laa ilaaha illa Alloh dan syahadat Muhammad Rosululloh. Dua syahadat ini saling berkaitan, tidak terpisahkan. Telah kami sampaikan penjelasan tentang syahadat Laa ilaaha illa Alloh, maka di sini kami akan menyampaikan penjelasan tentang syahadat Muhammad Rosululloh.

Syahadat Muhammad Rosululloh.artinya adalah mengikrarkan dengan lesan disertai keyakinan dengan hati bahwa Nabi Muhammad bin Abdulloh keturunan Hasyim dari suku Quraisy adalah utusan Alloh kepada seluruh mansuia dan jin.

Hal ini sebagaimana firman Alloh:

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ {28}

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’ (34):28)

Juga firman Alloh Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

KANDUNGAN SYAHADAT MUHAMMAD ROSULULLOH

Kemudian kita wajib mengetahui, bahwa syahadat Muhammad adalah utusan Alloh memiliki tuntutan-tuntutan sebagai berikut:

1- Membenarkan berita beliau.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan Rosul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-A’rof (7): 158)

2- Mentaati perintah beliau.

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seijin Allah. (QS. 4:64)

3- Menjauhi larangan beliau.

وَمَآ ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {7}

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah itu. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al-Hasyr (59):7)

Imam Ibnul Qoyyim –semoga Alloh merahmati beliau- berkata: “Adapun adab terhadap Rosul n , maka Al-Qur’an dipenuhi dengan adab tersebut. Pokok adab terhadap beliau adalah: “Totalitas kepasrahan terhadap beliau, tunduk terhadap perintah beliau, menerima berita dari beliau dengan penuh penerimaan dan keyakinan.

Dengan tanpa menentangnya dengan khayal kebatilan yang dia namakan dengan akal, atau menganggap berita Rosul mengandung syubhat (kerancuan) dan keraguan, atau lebih mengutamakan pendapat-pendapat manusia dan hasil-hasil fikiran-fikiran mereka daripada berita Rosul.

Maka (seorang mukmin) mentauhidkan (mengesakan; menunggalkan) Rosul dengan tahkiim (menjadikan beliau sebagai hakim) dan tasliim (kepasrahan terhadap keputusan Rosul), ketaatan dan kepatuhan. Sebagaimana dia (seorang mukmin) mentauhidkan (mengesakan) Al-Mursil (Alloh Yang telah mengutus Rosul) Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah, ketundukan, merendahkan diri, selalu kembali, dan tawakkal”. (Kitab Madarijus Salikin juz: 2; hlm: 387. Dinukil dari kitab Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhus Sholihin juz 2, hal: 7, penerbit: Daar Ibnil Jauzi, cet: 1, th: 1415 H / 1994 H)

4- Beribadah kepada Alloh hanya dengan syari’at beliau.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imron (3):85)

Imam Ibnu Katsir –semoga Alloh merahmatinya- berkata menjelaskan ayat 19, dari surat Ali ‘Imron: “Firman Alloh ini sebagai pemberitahuan dariNya bahwa tidak ada agama di sisiNya yang akan Dia terima kecuali Al-Islam, yaitu: mengikuti para Rosul di dalam apa yang mereka diutus oleh Alloh dengannya, di setiap waktu, sehingga Alloh menutup (para Rosul) dengan (Nabi) Muhammad. Alloh telah menutup seluruh jalan-jalan menuju kepadaNya kecuali dari arah Nabi Muhammad. Maka setelah diutusnya Nabi Muhammad, barangsiapa menghadap Alloh (yaitu: mati) dengan agama selain syari’at beliau, tidaklah akan diterima”. Kemudian Imam Ibnu Katsir membawakan firman Alloh Ta’ala ayat 85, dari surat Ali ‘Imron. (Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, surat Ali ‘Imron, ayat: 19)

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

PERINGATAN:

Setelah kita mengetahui konsekwensi dan kandungan syahadat Muhammad sebagai utusan Alloh, kita akan mengetahui kenyataan bahwa banyak di antara umat ini yang menyimpang dari kandungan syahadatain.

· Umat Islam seharusnya meyakini seluruh berita Rosulullah, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan tidak masuk akal! Seperti berita Rosululloh tentang akan datangnya Dajjal, akan turunnya Nabi Isa dari langit, dan lain-lain.

· Umat Islam seharusnya mentaati seluruh perintah Rosulullah, sesuai dengan kemampuannya, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan tidak sesuai dengan zaman! Seperti perintah Rosululloh untuk menutupi aurot bagi wanita, sholat berjama’ah bagi laki-laki, dan lainnya.

· Umat Islam seharusnya menjauhi seluruh larangan Rosulullah, namun sebagaian orang menolaknya dengan alasan menghalangi kemajuan dan ketinggalan zaman! Seperti larangan Alloh dan RosulNya terhadap riba, larangan kholwat (seorang laki-laki menyepi dengan seorang wanita yang bukan mahromnya), dan lainnya.

· Umat Islam seharusnya beribadah kepada Alloh hanya dengan syari’at Rosulullah, namun sebagian orang beribadah kepada Alloh dengan tanpa dalil (petunjuk), beribadah dengan kebodohan, hawa-nafsu, dan perkara baru dalam agama! Seperti beribadah dengan dzikir-dzikir dan sholawat-sholawat yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad. Bahkan banyak di antara umat ini yang membuat jalan-jalan sendiri untuk mendekatkan diri kepada Alloh, yang terkenal dengan istilah thoriqoh-thoriqoh.

Ini semua menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang belum memahami syahadat Muhammad Rosululloh dengan sebenar-benarnya. Semoga Alloh selalu membimbing kita semua di atas jalan yang Dia ridhoi dan cintai. Aamiin.

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

KAEDAH-KAEDAH IBADAH YANG BENAR

Disusun oleh: Muslim Atsari

Sesungguhnya kemuliaan hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun juga. Semakin seorang hamba menambah ketundukan dan peribadahan kepada Penciptanya, maka semakin bertambah pula kesempurnaannya dan derajatnya.

Ibadah adalah hak Alloh yang menjadi kewajiban hamba, dan kebaikannya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Karena sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan hambaNya.

Hamba tidak mungkin mengetahui cara beribadah kepada Alloh dengan benar hanya dengan akal dan perasaannya. Maka Alloh mengutus Rosul-RosulNya dan menurunkan kitab-kitanNya untuk memberikan petunjukNya.

Alloh berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124}

Maka jika datang kepada kamu (manusia) petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha (20):123)

Ibadah yang benar kepada Alloh dibangun di atas dasar-dasar atau kaedah-kaedah yang kokoh. Inilah ringkasan kaedah-kaedah tersebut:

1- Ibadah adalah tauqiifiyah.

Maknanya tidak melakukan ibadah kecuali dengan yang diperintahkan atau dituntunkan, berdasarkan wahyu Alloh Ta’ala. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah.

Alloh berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيٌر {112}

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112)

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa beribadah harus mengikuti perintah Alloh dan tidak boleh melewati batas.

2- Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bersih dari noda-noda syirik.

Yaitu ibadah itu dilakukan semata-mata mencari ridho Alloh Ta’ala, mengharap rohmatNya dan takut terhadap siksaNya.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلَ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya. (HR. Nasai, no: 3140. Lihat: Silsilah Ash-Shohihah, no: 52; Ahkamul Janaiz, hal: 63)

Jika ibadah itu dicampuri syirik, maka syirik itu menggugurkan ibadah tersebut, berapapun banyaknya ibadah itu!

Alloh berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ {65}

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar (39):65)

3- Ibadah harus meneladani Nabi Muhammad n (mutaba’ah).

Alloh berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا {21}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Allah dan (pahala) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh. (QS. Al-Ahzab (33):21)

Maka siapapun yang beribadah dengan tidak mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, maka ibadah itu tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka urusan itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

4- Ibadah yang telah ditetapkan: sebab, jenis, kadar, cara, waktu, dan tempatnya, wajib dilakukan sebagaimana yang dituntunkan. Tidak boleh melanggar ketentuan-ketentuan tersebut.

Contoh: Alloh telah menentukan waktu-waktu ibadah sholat, maka tidak boleh melakukan di luar ketentuan. Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا {103}

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). (QS. An-nisa’ (4):103)

5- Ibadah harus dilakukan dengan dasar kecintaan, berharap rohmat Alloh, takut siksaNya dan disertai ketundukan dan pengangungan kepada Alloh.

Ketika Alloh memuji Nabi Zakaria sekeluarga, Dia berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَ رَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ {90}

Sesungguhnya mereka (Nabi Zakaria sekeluarga) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’ (21): 90)

6- Kewajiban ibadah tidak gugur dari hamba, semenjak baligh sampai meninggal dunia.

Alloh Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {102}

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-‘Imron (3):102)

Manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Alloh, yaitu Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam, berkewajiban beribadah sampai wafat, maka orang-orang yang derajatnya di bawah beliau lebih wajib untuk beribadah kepada Alloh sampai matinya.

Alloh Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ {99}

Dan beribadahlah kepada Robbmu (Penguasamu) sampai al-yaqiin (kematian) datang kepadamu (QS. Al-Hijr (15):99)

Para ulama ahli tafsir bersepakat bahwa makna al-yaqiin di dalam ayat ini maknanya adalah kematian. Hal ini seperti firman Alloh pada ayat lain, yang memberitakan pertanyaan penduduk sorga kepada penduduk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ{42} قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ {43} وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ {44} وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَآئِضِينَ {45} وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ {46} حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ {47}

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami al-yaqiin (kematian)". (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-47)

Setelah kita mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa anggapan “kewajiban beribadah kepada Alloh dengan syari’at Nabi Muhammad” gugur pada orang yang telah mencapai hakekat atau ma’rifat, merupakan anggapan yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Hadits dan kesepakatan umat Islam semenjak dahulu.

Inilah 6 kaedah penting berkaitan masalah ibadah, semoga bermanfaat.

Sabtu, 02 Agustus 2008

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH

Disusun oleh: Muslim Atsari

Alloh Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan kita hanyalah agar kita beribadah kepadaNya. Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51):56)

Demikian juga bahwa seluruh utusan Alloh, memulai seruan mereka agar manusia beribadah hanya kepadaNya. Dan perintah pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an adalah perintah beribadah hanya kepada Alloh semata. Yaitu firman Alloh Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {21}

Hai manusia, beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqoroh (2): 21)

Oleh karena itu, kita wajib memperhatikan ibadah ini, baik secara ilmu maupun amal. Maka apakah ibadah itu?

MAKNA IBADAH

Makna ibadah secara bahasa adalah: ketundukan dan kerendahan/kepatuhan, seperti perkataan bahasa Arab: “thoriiq mu’abbad” artinya: jalan yang merendah karena diinjak oleh telapak kaki. Atau seperti perkataan “ba’iir mu’abbad” artinya onta yang patuh.

Adapun makna ibadah secara istilah, para ulama telah menjelaskannya dengan berbagai ungkapan yang berbeda-beda, namun intinya sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H) berkata: “Ibadah adalah: satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Al-‘Ubudiyah, hlm: 23, dengan penelitian: Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi)

Imam Ibnu Katsir t (wafat 774 H) berkata: “Di dalam (istilah) syari’at (ibadah) adalah: suatu ungkapan dari apa yang menggabungkan kesempurnaan/puncak kecintaan, ketundukan, dan rasa takut”. (Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Fatihah, ayat: 5)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t berkata: “Ibadah digunakan pada dua perkara (dua makna):

Pertama: ta’abbud (perbuatan ibadah), maka ini maknanya adalah: merendahkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dengan kecintaan dan pengagungan.

Kedua: muta’abbadu bihi (sebagai obyek; yang digunakan untuk beribadah), maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t , yaitu: Istilah yang meliputi seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin”. (Kitab Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab At-Tauhid, juz:1, hal:10)

CARA MELAKSANAKAN IBADAH

Dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin t di atas kita mengetahui bahwa cara beribadah kepada Alloh adalah dengan menjalankan perintah-perintahNya, baik perintah wajib atau mustahab (sunnah) dan menjauhi larangan-laranganNya, baik larangan harom atau makruh. Hal itu dilakukan dengan penuh kecintaan dan pengagungan, berharap rohmat Alloh dan takut terhadap siksaNya.

Oleh karena itu untuk beribadah membutuhkan ilmu agama, berdasarkan dalil-dalil Al-Kitab danAs-Sunnah. Karena kita tidak akan mengetahui perintah Alloh untuk dikerjakan kecuali dengan dalil. Dan kita juga tidak akan mengetahui laranganNya untuk ditinggalkan kecuali dengan dalil. Maka beribadah kepada Alloh hanyalah dengan mengikuti Nabi Muhammad n , mentaati Alloh dan RosulNya. Mentaati terhadap perintah dengan cara melaksanakannya, mentaati larangan, dengan cara meninggalkannya.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imron (3): 31)

Dan telah diketahui bahwa selain mengikuti tuntunan Nabi Muhammad n , ibadah akan diterima oleh Alloh jika dilakukan dengan ikhlas, dan didasari dengan iman. Tiga hal inilah syarat diterimanya ibadah.

CAKUPAN IBADAH

Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ibadah kepada Alloh meliputi seluruh sisi kehidupan manusia, yang lahir maupun yang batin. Inilah di antara dalil-dalil yang menunjukkan cakupan ibadah itu mengenai seluruh sisi kehidupan manusia:

Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَ نُسُكِي وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {162} لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذّلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ {163}

Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)". (QS. Al-An’am (6): 163)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ibadah mencakup seluruh sisi kehidupan manusia.

Juga firman Alloh Ta’ala:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Sebab turun ayat ini adalah perselisihan dua sahabat tentang pengairan kebun, kemudian Rosululloh memberikan keputusan di antara mereka. Namun salah seorang dari mereka tidak menerima keputusan Rosulullah, maka turunlah ayat ini. Ayat ini menunjukkan kewajiban menerima keputusan Rosulullah dalam segala perkara, baik masalah pengairan, sebagaimana sebab turunnya ayat ini, maupun lainnya.

KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA IBADAH

Ada dua kelompok manusia yang salah di dalam memahami makna ibadah. Mereka adalah:

1- Kelompok orang yang mempersempit makna ibadah.

Mereka membatasi ibadah hanyalah perbuatan ritual yang berhubungan dengan Alloh saja. Atau menganggap bahwa ibadah itu hanya dilakukan di masjid saja. Sehingga ketika kepada kelompok orang ini disampaikan perintah atau larangan yang berkaitan dengan makan-minum, berpakaian, pergaulan, kesenian, kebudayaan, ekonomi, politik, pernikahan, atau lainnya yang diatur oleh agama Islam, mereka menolak dengan alasan agama tidak boleh mengatur hal-hal tersebut! Alangkah sombongnya mereka terhadap Alloh, Pencipta mereka, yang telah membuat syari’at untuk mereka!!

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ {32}

Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali-‘Imron (3): 32)

Ayat ini menunjukkan wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara umum, dalam perkara apa saja.

2- Kelompok orang yang melewati batas dalam agama.

Mereka menganggap sesuatu yang bukan ibadah sebagai ibadah. Membuat perkara-perkara baru di dalam agama, dengan akalnya atau perasaannya. Melakukan ibadah tanpa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya sekedar kebiasaan atau adat yang tidak dituntunkan oleh Alloh dan RosulNya. Padahal ibadah itu harus berdasarkan dalil dan petunjuk dari Alloh dan RosulNya. Jika tidak, maka tertolak.

Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak. (HR. Bukhari no: 2697; Muslim no: 1718)

Dengan penjelasan ini, kita memahami keagungan agama Islam, agama yang haq, yang mengajarkan segala perkara yang dibutuhkan bagi umat manusia. Maka seharusnya manusia menerima agama mulia ini. Hanya Alloh Pemberi taufiq. Al-hamdulillah robbil ‘alamin.

Jumat, 01 Agustus 2008

Awas Nabi Baru

AWAS NABI PALSU!

Sesungguhnya termasuk keimanan di dalam agama Islam, adalah kita wajib meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah penutup seluruh para Nabi dan Rosul, tidak ada Nabi lagi setelah beliau. Hal ini merupakan aqidah dan keyakinan pokok dan penting yang dijelaskan oleh Alloh di dalam kitabNya dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad di dalam banyak hadits-hadits beliau.

Alloh berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا {40}

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab (33):40)

Di antara hadits-hadits yang menjelaskan hal ini antara lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan diriku dan para Nabi lainnya sebelumku, seperti seorang lelaki yang membangun sebuah rumah. Dia membangunnya dengan baik dan indah, kecuali sebuah batu bangunan di pojoknya. Manusia-pun lantas melihat sekililingnya dan terkagum – kagum seraya berkomentar: ”Cuma kenapa tidak diletakkan batu di tempat itu?”

Beliau bersabda: “Akulah batu bangunan itu. Dan akulah penutup para Nabi”. (HR. Bukhori, no: 3535; Muslim, no: 2286; dll)

Rasulullah n juga bersabda:

لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ

Saya memiliki lima nama. Saya adalah Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah Al-Maahi (artinya: orang yang menghapus), Alloh menghapus kekafiran denganku, saya adalah Al-Haasyir (artinya: orang yang mengumpulkan), orang-orang akan dikumpulkan (pada harikiamat) di belakangku, saya adalah Al-‘Aaqib (‘Aaqib artinya orang yang tidak ada Nabi setelahnya). (Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 3532)

Keyakinan bahwa “Nabi Muhammad adalah penutup seluruh para Nabi dan Rosul, serta tidak ada Nabi lagi setelah beliau” merupakan ijma’ umat Islam, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi –semoga Alloh merahmatinya- , beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi, dan segala pengakuan Nabi sesudah baliau adalah al-ghoyy (kesesatan) dan hawa-nafsu”. (hlm: 217)

Imam Ibnmu Abil ‘Izzi Al-Hanafi berkata menjelaskan perkataan di atas: “Ketika telah pasti bahwa beliau adalah penutup para Nabi, maka dapat diketahui bahwa siapapun yang mengaku Nabi sesudahnya adalah pendusta. Al-Ghoyy (kesesatan) adalah lawan dari ar-Rosyaad (petunjuk). Sedangkan hawa adalah ungkapan untuk ambisi nafsu. Artinya, bahwa pengakuan ini didasari ambisi syahwat, bukan karena dalil; sehingga menjadi batil”. (hlm: 218)

AWAS NABI-NABI PALSU!

Walaupun aqidah Islam telah jelas dan nyata, bahwa tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad n , namun aneh dan nyata: banyak orang terpedaya dan tersesat karena meyakini ada Nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad n . Hal ini benar-benar terjadi di dalam sejarah –bahkan sampai sekarang kita melihatnya!-

Ketahuilah, sesungguhnya kejadian tersebut merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat yang telah disabdakan oleh Rosululloh n di dalam hadits-haditsnya yang shohih. Inilah di antaranya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:َ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Dari Abu Huroiroh, dari Nabi Muhammad, beliau telah bersabda: “Hari kiamat tidak akan muncul sampai keluar para pemalsu para pendusta (jumlah mereka) mendekati tigapuluh (orang). Mereka semua mengaku sebagai utusan Alloh. (HR. Bukhori, no: 3609; Tirmidzi, no: 2218)

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الْأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Dari Tsauban, dia berkata: Rosululloh bersabda: “Hari kiamat tidak akan muncul sampai beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan orang-orang musyrik, dan sampai mereka akan menyembah berhala-berhala. Dan sesungguhnya akan ada di kalangan umatku tigapuluh para pendusta, mereka semua mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup seluruh para Nabi, tidak ada Nabi setelahku. (HR. Tirmidzi, no: 2219; dishohihkan syaikh Al-Albani)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata: “Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abdulloh bin Zubair penyebutan nama sebagian para pendusta tersebut dengan lafazh:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يخرج ثَلَاثُونَ كَذَّابًا مِنْهُمْ مُسَيْلَمَةُ وَالْعَنْسِي وَالْمُخْتَارُ

“Hari kiamat tidak akan muncul sampai keluar tiga puluh pendusta, di antara mereka Musailamah, Al-Ansi, dan Al-Mukhtar”.

Dan telah nampak perkara yang membenarkan hal itu pada zaman Nabi n , yaitu munculnya Musailamah di (kota) Yamamah, Al-aswadul-Ansi di Yaman, kemudian pada kekholifahan Abu Bakar muncul Thulaihah bin Khuwailid di Bani Asad bin Khuzaimah, dan muncul Sajaah Tamimiyah di Bani Tamim.

Al-Aswad dibunuh sebelum wafatnya Nabi n , dan Musailamah dibunuh pada kekholifahan Abu Bakar. Sedangkan Thulaihah bertaubat dan mati beragama Islam -menurut pandapat yang benar- pada kekholifahan Umar. Dan dinukilkan bahwa Saajah juga bertaubat. Berita tentang mereka ini terkenal di kalangan para ahli sejarah.

Kemudian –setelah zaman sahabat- pertama kali yang muncul di antara mereka adalah Al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid Ats-Tsaqofi. Dia menaklukkan kota Kufah pada awal kekholifahan Ibnu Zubair. Kemudian dia menampakkan kecintaan kepada ahli bait (keluarga Nabi) dan mangajak manusia untuk mencari para pembunuh Al-Husain, dia mengejar mereka dan membunuh banyak orang yang melakukan hal itu atau membantunya, maka orang-orangpun mencintainya. Kemudian setan menghias-hiasinya agar mengaku sebagai nabi dan menyangka bahwa Jibril mendatanginya. Dan Al-Mukhtar dibunuh pada tahun enam puluhan.

Di antara mereka adalah Al-Harits Al-Kadzdzab, dia muncul pada kekholifahan Abdul Malik bin Marwan, lalu dia dibunuh.

Pada zaman kekholifahan Bani ‘Abbas muncul banyak orang (yang mengaku sebagai Nabi).

Dan bukanlah yang dimaksudkan dengan hadits (bahwa jumlah mereka tigapuluh) secara mutlak, karena sesungguhnya mereka itu tidak terhitung banyaknya, karena mayoritas mereka, pengakuan sebagai Nabi itu muncul dari mereka dari sebab kegilaan atau kegelapan. Namun yang dimaksudkan adalah (Nabi palsu) yang memiliki kekuatan dan menampakkan kesamaran, sebagaimana telah kami jelaskan. Dan Alloh telah menghancurkan orang yang terjerumus padanya. Dan masih sisa di antara mereka orang-orang yang akan menyusul kawan-kawannya”.

Di zaman belakangan ini muncul Nabi palsu dari Qodian, India, yang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Dia memiliki pengikut-pengikut di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Mereka menyebut kelompok mereka dengan nama Jemaat Ahmadiyah.

Maka merupakan perkara yang sangat mengherankan dan sangat aneh bahwa ada orang yang mengaku sebagai orang Islam, mengakui Al-Qur’an itu benar, mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh, lalu dia mengaku sebagai Nabi, kemudian dia mendapatkan pengikut! Demikian juga yang mengherankan adalah kepercayaan sebagian manusia terhadap pengakuan itu! Sedangkan Al-Qur’an dan Al-Hadits telah memjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi dan tidak ada lagi Nabi sesudahnya.

Semoga sedikit penjelasan ini dapat menggugah kita semua tentang pentingnya ilmu, dan semoga Alloh akan selalu membimbing kita di atas jalan yang benar.

 

Design by Free Islamic Blogger Template for Pancaran Cahaya Sunnah